Senin, 05 November 2018

Alissa Wahid Membawa Sumpah Pemuda Ke Kalangan Milenial

Image
Sumber : akurat.co

Peringatan Hari Sumpah Pemuda juga diisi oleh Alissa Wahid bersama presidium Mafindo Ratih Ibrahim dan Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid yang datang belakangan dan menjadi pembicara di acara talkshow di atas panggung depan gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Talkshow yang diselenggarakan pada 28 Oktober 2018 pukul 09.00-10.00 WIB dan dihadiri oleh ratusan anak-anak muda dari berbagai sekolah. Dengan tema Pemuda untuk Bangsa yang mengajak anak-anak generasi milenial untuk menengok pemuda masa lalu, dan menyadarkan tentang apa saja yang dihadapi pada masa kini.

Anak-anak muda duduk di halaman, di anak tangga, bahkan ada yang berdiri, antusias mendengarkan pesan-pesan Alissa Wahid. Putri pertama mendiang Gus Dur mengajak anak-anak muda yang hidup di zaman yang berbeda, mengambil semangat Sumpah Pemuda yang tetap relevan. “Nah, perjuangan apa, sesuai konteks, gitu. Nah, kenapa Sumpah Pemuda yang diambil karena itu merupakan momen yang paling bersejarah, kebangkitan Indonesia ada di situ,” kata Alissa Wahid.

Dia alumnus SMA Negeri 8 Jakarta, yang kemudian melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta jurusan psikologi dan kini menjadi National Coordinator GUSDURian Network Indonesia. Lewat Gusdurian, Alissa Wahid dan kawan-kawan berjuang yang ujung-ujungnya adalah mencapai Indonesia yang adil, makmur, sentosa. Dia berjuang melalui cara membangun martabat kemanusiaan, keadilan, kearifan lokal, dan pembebasan dari setiap jenis penindasan.

Alissa Wahid aktif sekali di jejaring Twitter karena media ini memudahkannya untuk berinteraksi dengan publik. Cuitan-cuitannya tidak melulu serius, terkadang lucu. Pada tanggal 28 November itu, wartawan AKURAT.CO menemuinya usai acara talkshow. Dia tetap humble seperti dulu. “Wuih, UNISI,” kata Alissa Wahid mengomentari kaus yang saya kenakan. Saya jelaskan sebenarnya ini kaus hadiah dari alumnus Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dan dia ngakak mendengar penjelasan itu.

Ketika ditanya soal apa yang harus diperjuangkan, ia ntegas menjawab "Yang kita diperjuangkan tentu saja di ujungnya adalah Indonesia yang adil makmur sentosa. Tetapi dengan cara apa? Dengan cara membangun martabat kemanusiaan, keadilan, kearifan lokal, dan pembebasan dari setiap jenis penindasan. Materinya atau tema apa saja yang kami perjuangkan, itu macem-macem, tergantung local content. Jadi misalnya kalau di Kalimantan, teman-teman Gusdurian lebih banyak bicara soal mendampingi keluarga korban tambang, kayak gitu. Sementara di tempat lain itu lintas iman. Tergantung isu ketidakadilan apa yang muncul. Jadi siapa saja boleh bergabung karena ini sifatnya komunitas terbuka."


Sumber : akurat.co


Tidak ada komentar:

Posting Komentar